Seni dan Politik: Punkasila

punkasila.jpg

Berikut ini pertunjukan Punkasila di Australia menurut Dadang Christanto seperti yang ditulisnya dalam harian Kompas, Minggu 3 Juni 2007, dan disajikan di bawah ini dengan izin dari penulisnya.

Yang Kini Tinggal Kenangan

Dadang Christanto

Anak saya, Tukgunung, yang menginjak usia remaja kecewa karena ayahnya, Kamis (24/5) malam, melewatkan tayangan Foreign Correspondence di ABC TV tentang kaum punk di Yogyakarta. “Cool man!” komentarnya.

Siangnya saya mendapat kontak telepon dari Gallery of Modern Art (GoMA) di Brisbane yang mengundang bertemu di pub dengan Punkasila, salah satu dari kelompok dalam tayangan TV semalam, sekadar bersulang selamat datang dan sukses untuk menghadapi pentas di GoMA, 26 Mei.

Sambil menunggu kedatangan mereka yang terlambat, saya mengingat-ingat mengenai gambaran punk di pertengahan tahun 1990-an di Yogyakarta, khususnya mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI). Terlintas anting, gelang, dan kalung metal menyerupai kulit buah durian. Tubuh- tubuh berkulit dekil, bertato, dengan gemerincing rantai dan rentetan peniti di sana-sini. Serta jaket gelap kucel dengan rambut acak-acakan atau model “hawk” dengan cat warna-warni seperti reptil di pedalaman Amazon.

Kaum punk di Yogyakarta bagian tak terpisahkan dari gerakan reformasi di kotanya. Mereka peduli dengan gerakan antimiliterisme, fasisme. Sebagian besar dari mereka bergabung dengan Taring Padi, sebuah kelompok perlawanan perupa muda di masa reformasi yang berbasis seni untuk rakyat tertindas.

Atau gambaran di kota-kota besar di Inggris pada tahun 1970-an dengan bermunculan kelompok pemusik muda dengan alat seadanya dengan biaya produksi pertunjukan murah, di tonton dalam kelompok kecil/terbatas di bekas pabrik-pabrik tua tak terpakai. Di gedung-gedung tua tak berpenghuni di bawah tanah. Sex Pistol salah satu grup musik punk terkemuka saat itu di Inggris.

Kaum punk menolak dan melawan kemapanan tatanan masyarakat borju. Termasuk kemapanan musik yang pada zamannya ditandai dengan ukuran serba besar dan canggih. Alat-alat musik dan perangkat sound system yang berton-ton beratnya, memakai listrik bermega-mega watt, dengan penonton masif. Konser ala Pink Floyd, misalnya.

Kaum punk tak butuh itu. Dan, konon, kaum punk sejati menolak keberadaan uang sebagai sikap konsekuen atas ideologi anarkisnya.

Atau gambaran kaum punk di Brisbane tahun 1970-an yang dikenal lebih militan di bandingkan dengan kaum punk Sydney atau di Melbourne. Kaum punk di Brisbane menjadi salah satu kekuatan penekan terhadap pemerintahannya. Negara Bagian Queensland dikenal sebagai pemerintahan yang konservatif, korup, dan represif di tahun 1970-an.

Kelompok musik punk The Saints dari Brisbane menjadi menonjol di antara kelompok musik punk di Australia, The Saints menjadi simbol heroik dalam gerakan kaum punk di Australia.

Rezim hegemoni akan selalu berhadapan dengan unsur organik, seperti di kalangan seniman, demikian Antonio Gramsci berpendapat. Maka, biasanya akan melahirkan karya-karya yang menarik dan otentik. Hal ini juga diandaikan oleh Robert Leonard dari Selandia Baru, yang dua tahun lalu menjabat direktur Institute of Modern Arts Brisbane berbincang dengan penulis; “Sungguh menarik dan menantang bila jabatan saya ini terjadi di era tahun 1970-an di Brisbane.”

Ternyata gambaran-gambaran saya meleset. Punkasila yang saya jumpai adalah anak-anak muda yang santun dan hangat. Mereka adalah Danius, Hahan, Atjeh, Iyok, Janu, Moky, Krisna, dan Wimo.

Dengan kulit bersih, tak kelihatan bertato, tak ada peranti atau aksesori yang merujuk kaum punk dalam tubuh atau pakaian mereka. Kromo inggil (bahasa Jawa halus) terkadang digunakan. Terasa “jinak” dan seronok untuk ukuran tindak-tanduk kaum punk. Dan, menurut mereka, Punkasila memang bukan kaum punk seperti seniornya dulu di Taring Padi yang bermarkas di bekas gedung lama ISI.

Malam 26 Mei 2007, dihadiri seratus lebih pemirsa, Punkasila menggoyang GoMA lewat musik rocknya. Pementasan mereka malam itu adalah tanda untuk menutup pameran seni rupa kontemporer Asia-Pacific Triennial V. Sebuah pameran yang menempati gedung baru sebagai galeri terbesar di Australia yang di buka 1 Desember tahun lalu.

Seusai dari Brisbane, Punkasila akan pentas di Melbourne minggu berikutnya.

Dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang tumpang-tindih serta gerak tubuh spontan, jenaka, dari vokalis Hahan, Punkasila mampu komunikatif dan mencairkan suasana beku pengunjung yang umumnya formal.

Panggung mereka digantung gambar poster ala film Bollywood. Dengan di sudutnya bertuliskan FPM-I/A (Front Pembela Melukis-Indonesia/Australia)

Lagu-lagu mereka menyatakan perang singkatan. Sebagai orang asing yang pada awalnya bersemangat belajar bahasa Indonesia, Danius Kesminas (pematung asal Melbourne) merasa penggunaan akronim yang demikian banyak di media cetak menjadikan Danius makin bingung dan dirasa makin berat dalam mempelajari bahasa Indonesia. Dari ketegangan inilah, Danius dan rekan-rekannya dari mahasiswa seni rupa ISI menyatakan perang terhadap akronim lewat musik. Lalu akronim-akronim yang kita kenal sebelumnya diplesetkan menjadi pengertian baru. Misalnya DEN (Dewan Ekonomi Nasional) menjadi Dangdut Emang Ngetop, PKI (Partai Komunis Indonesia) jadi Penggemar Komik Indonesia, PNU (Partai Nahdlatul Umat) menjadi: Partai Nunut Udud (Jawa: partai ikutan ngrokok), Kopassus (Komando Pasukan Khusus) menjadi: Komando Pasukan Suka Susu, dan lain-lain.

Ada 18 akronim (18 lagu) yang mereka bawakan malam itu. Mereka mengenakan kostum doreng ala militer yang mereka desain dengan teknik batik. Lengkap dengan bordiran nama di baju dan badge kesatuannya.

Bentuk gitar listrik yang mereka mainkan menyerupai senapan otomatis M16. Lengkaplah memarodikan militer. “For fun and we like it,” kata Danius.

Kaum punk yang merupakan arus balik perlawanan ideologi semasa awal gerakannya kini tinggal kenangan. Mereka tak lagi menghuni ruang-ruang temaram dan pengap di malam dingin, tetapi di terang cahaya matahari sembari ngeceng, atau foto bersama para turis di Mal kota London, Brisbane, Jakarta, Sydney, Tokyo. Punk telah kehilangan daya pemberontakannya. Punk, riwayatmu kini identik dengan fashion.

Dadang Christanto Perupa, Tinggal di Brisbane

11 Comments

  1. Posted June 8, 2007 at 10:54 am | Permalink

    Very interesting article (maaf bahasa Ingres).
    Although I missed the TV piece, I saw this show at Darren Knight gallery. It was amazing. For me, and I think for others who have lived in Yogya, very nostalgic too. One thing though, in a gallery context, some of the potency is definitely lost. I think it is really hard to present projects like this in galleries. You don’t get the sense that it is actually a public intervention. It is different in Yogya, where I think there is more crossing over between public and private space and also between formal and informal art worlds. But here in Sydney, it would have been great to see the work in some different contexts, ie a concert, a public performance or installation, and more engaged with punk communities here. Mind you, I didn’t make it to the opening, which I heard was wild, I just viewed the work on a lonely, quiet saturday afternoon.

  2. heidi
    Posted June 9, 2007 at 2:53 pm | Permalink

    Interesting comments about the Punkasila shows in Brisbane and Sydney. In Melbourne they performed a rockin show at Ding Dong Lounge to a huge crowd who totally loved them - especially Punkasila’s frenetic frontman Hahan! Kudos to Danius Kesminas for organising their Australian tour. I have a few comments in relation to Dadang Christanto’s article:

    I’m not convinced that the context of the Yogya punk scene that Dadang describes is the most accurate one to explain the arrival of Punkasila. Correct me if I’m wrong but I don’t think the Punkasila boys even consider themselves ‘punks’ or identify with the punk scene in Yogyakarta.

    Also, the generational tension between Taring Padi and Punkasila that the article portrays is misleading. The seniority syndrome that exists among some Indonesian artists is not true for Taring Padi and Punkasila and the last I heard Punkasila’s promoter cum manager in Yogyakarta is/ was a member of Taring Padi.

    Finally the way the article describes perceived differences in demeanor between Punkasila and Taring Padi (or ‘kaum punk’ in Yogyakarta) is unfair. I’m sure Punkasila were friendly and courteous when Dadang met them in Brisbane. Indeed this is also my experience of a majority of punks I have met during my time in Indonesia.

    Heidi Arbuckle

  3. hengky
    Posted June 12, 2007 at 6:46 am | Permalink

    JOGJA BELONG TO ME!

  4. hengky
    Posted June 12, 2007 at 7:00 am | Permalink

    banyak orang yang tidak tahu benar tentang indonesia saat ini, tidak terkecuali dengan orang indonesia sendiri yang tinggal di australia…

    aku pikir orang indonesia yang tinggal di australia adalah orang-orang yang secara gaya orang indonesia adalah orang-orang yang oleh nasib sudah di tentukan…semacam “muda kaya raya-mati masuk surga”.

    sayang sekali yang dilihat hanyalah bagian “infotaiment”nya saja…ha ha ha

    lucu juga, tak apalah…

    saya juga suka tanggapan dari heidi arbuckle,

    tapi sayang buat dadang christanto

    setelah saya membaca artikel di koran kompas, ajaib sekali…saya bisa tahu kalau dadang christanto ini tidak tahu apa-apa tentang kota yogyakarta saat ini, dan lucunya lagi beliau bisa bercerita tentang masa lalu kota yogyakarta dengan atribut punk yang sekiranya adalah ngawur sekali…saya hanya bisa tertawa…

    terlebih lagi dengan komentar dadang christanto pada alinea terakhir dalam artikel diatas yang saya rasa tidak masuk akal dan saya pikir dadang christanto juga sudah kehilangan akal:

    Kaum punk yang merupakan arus balik perlawanan ideologi semasa awal gerakannya kini tinggal kenangan. Mereka tak lagi menghuni ruang-ruang temaram dan pengap di malam dingin, tetapi di terang cahaya matahari sembari ngeceng, atau foto bersama para turis di Mal kota London, Brisbane, Jakarta, Sydney, Tokyo. Punk telah kehilangan daya pemberontakannya. Punk, riwayatmu kini identik dengan fashion.

    hengkystrawberry@yahoo.com
    hammer_walrus@yahoo.co.uk
    upilnaga@hotmail.com
    gegabah88@yahoo.com
    basa_basi88@yahoo.com
    punkasila@yahoo.com

  5. Posted December 31, 2007 at 8:25 pm | Permalink

    benar skali yang d ktakan hengky oi…oi.. for all. skarang punk hanya tinggal kenangan dan skarang hanya megantungkan fashion yang ada. sama seperti kawank yang bisanya menggantungkan fashionnya.

    klo aku kumpul ma teman-teman mesti aku disindir “luk koen iku lho pakaian mu koyok opo ae, sak gak-gak o’ awakmu pakek pakaian “RAPI” engkok lek awak dhewe metu-metu ben siap kabeh” tpi dalam hati saya “buat apa pkek pakaian rapi klu kehidupan kita masih belum rapi, trus emang nya mau ke mana paling juga “cangkruk” ha….ha… DALAM INDONESIA cangkruk=ngumpul dan satulagi yang aku benci dari temenku ngapain cerita-cerita idealis klo kita juga belum IDEALIS !!!

  6. Posted January 3, 2008 at 5:43 pm | Permalink

    hai oi…………………oi…….. merdeka for wronk people. jaya trussssssss punk asila

  7. mahendra
    Posted January 6, 2008 at 4:17 am | Permalink

    gw rada ga setuju dgn pendapat saudara.

    taring padi,taring babi, dan scene2 punk lainnya ditanah air sampai sekarang masih dihuni oleh idealis2 muda yang masih tajam aroma pemberontaknya.

    masih banyak temen2 gw yg berpaham anarki, antimiliter, discene2 tersebut

  8. Posted November 28, 2008 at 7:26 pm | Permalink

    bener bagnet,memang PUNK jaman sekarang identik dengan fashion…….PUNK RIWAYATMU KINI….

  9. Posted March 1, 2009 at 4:06 pm | Permalink

    saya blm kenal dg Taring Padi dkk, tapi sy tertarik dg poster-posternya.

  10. iyok
    Posted April 29, 2009 at 6:53 am | Permalink

    ya…salut buat yang masih resisten!semoga tetap konsisten!

  11. pemandu bakat
    Posted May 7, 2009 at 3:21 am | Permalink

    PUNKASILA?? not so punk. and why not?

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*