Demokrasi: Siapa Mau?

pemilu78.jpg

Awal Nopember lalu aku ikut sebuah rapat kerja di Yogyakarta yang diselenggarakan COMBINE Resource Institution (Indonesia) bersama Global Partner (Inggris), dengan judul “Challenges and Opportunities for Freedom of Expression: An exploration of the networked communications environment in Asia”.

Ada banyak yang menarik dari acara itu, khususnya tentang media massa di Asia. Seluk beluk acara tersebut, termasuk salinan makalah para pembicara tersedia disini.

Satu hal kecil yang sempat aku lontarkan selintas di acara itu, dan mungkin masih perlu diobrolkan lebih jauh adalah soal demokrasi. Yang aku lontarkan nggak baru, tapi kayaknya masih perlu diulang. Di tengah-tengah porak-porandanya berbagai narasi besar hari-hari segini, masih ada sebuah gagasan seperti “demokrasi” yang tampil begitu lugu, indah tanpa cacat, dan dielu-elukan sebagai ratu adil. Seakan-akan kalau demokrasi datang, semuanya beres.

Sudah ada yang menolak demokrasi. Celakanya penolakan itu sebagian besar datang dari pedagang korup, atau pejabat negara yang otoriter, serakah kekuasaan, dan martabatnya sangat pantas diragukan. Akibatnya, tidak terjadi diskusi dan perdebatan yang menarik atau berimbang. Mereka tidak menyampaikan sebuah gagasan kritis atau kisah-tandingan yang meyakinkan para pemuja demokrasi. Pernyataan mereka ditolak mentah-mentah sebagai sampah propaganda dan dicurigai sebagai siasat membodohkan orang banyak sambil mengelus-elus kepentingan sendiri.

Paling tidak ada dua perkara yang pantas ditimbang lebih jauh. Pertama, apa sih yang dimaksud dengan demokrasi ketika orang berbicara tentangnya? Kedua, mana sih ada contoh demokrasi seperti yang diangan-angankan para pemujanya?

Ketika demokrasi bertumbuh subur di negeri-negeri Barat, demokrasi di negeri itu di bangun dengan berbagai bentuk kekerasan dan penjajahan di negeri-negeri orang lain. Ketika seorang Bush berteriak tentang “demokrasi”, yang dimaksudkannya sangat berbeda dengan pengertian demokrasi seperti yang kita pelajari di sekolah. Seorang teman di Amerika mengatakan bila Bush berbicara tentang demokrasi, sebenarnya dia sedang berkotbah tentang keyakinan agamanya, yang tidak dengan sendirinya sama dengan keyakinan agama banyak orang Nasrani.

Ketika orang-orang Asia bicara tentang “demokrasi” biasanya yang dimaksud adalah situasi “bebas dari gangguan” khususnya gangguan dari politikus kejam. Masalahnya apakah lenyapnya seorang diktator sama dengan demokrasi? Apakah masyarakat masih berminat berdemokrasi dalam pengertian lain: bersama-sama kerja keras menata masyarakat dan negara yang majemuk, mengadakan musyawarah yang bertele-tele, dan berdebat siang-malam untuk mencapai kesepakatan sementara, dan kemudian menghormati serta membela kesepakatan itu, sampai ada kesepakatan yang lebih baru. Ini semua sulit, mahal, dan meletihkan.

Mari kita tengok di tempat lain; siapa sih yang mau demokrasi dalam pengertian itu: proses, kerja-keras, tarik-ulur kata dan kekuatan, mencari kesepakatan yang selalu sementara sifatnya? Berkali-kali dalam pemilihan umum di Amerika Serikat, jumlah pemilih yang benar-benar datang ke tempat pemungutan suara seringkali rendah. Di negara-negara liberal seperti Australia, demokrasi dijalankan bukan tanpa paksaan. Ikut pemilihan umum wajib hukumnya. Indonesia kelihatannya lebih liberal ketimbang mereka dalam hal ini.

Di Filipina 20 tahun lalu demokrasi artinya emoh pada diktator bernama Marcos. Sesudah kekuasaan Marcos runtuh, yang namanya people power bubar tanpa dibubarkan pasukan huru-hara. Sebagai presiden terpilih, Cory Aquino berusaha mati-matian mempertahankan sosok people power yang telah memberinya mandat, dan diharap bisa terus menjadi sumber kewibawaannya. Tapi gagal. Rakyat emoh berdemokrasi. Yang sama terjadi di Indonesia sejak 1998 dengan rontoknya kekuasaan Soeharto.

Maka, persoalannya bukan soal demokrasi itu datang dari Barat dan kurang cocok dengan Timur. Mempertentangkan Barat/Timur itu sendiri tradisi kolonial dari Barat yang kemudian dipuja-puja di tanah jajahan Timur, seakan-akan jalan berpikir yang obyektif atau perasaan asli orang Timur.

Di Barat sendiri demokrasi tidak selalu disambut baik dan dipuja. Pada awalnya, dan ini belum lama dalam sejarah mereka, demokrasi juga dicurigai kaum elit di Barat. Ketika demokrasi diterapkan dalam pemilihan umum, hasilnya tidak selalu seperti yang dibayangkan para pemuja demokrasi di Asia. Perlu dicatat, seorang fasis Hitler dipilih lewat prosedur demokratis.

Demokrasi, sebagai slogan memang enak dan perlu untuk menghantam para pejabat korup dan diktator. Tidak aneh, jika mereka mengutuk demokrasi. Tapi sebagai sebuah proyek kerja yang berjangka-panjang, mahal, dan meletihkan? Siapa yang masih benar-benar berminat?

8 Comments

  1. Posted December 2, 2007 at 11:39 am | Permalink

    so what’s your point, pak ariel? what kind of democracy suitable for a young country like indonesia? do we have too much democracy now? or too little? or actually we have no democracy but new election procedures?

    i’m perplexed about this matter. what’s wrong with our democracy? or our democracy has been hijacked by the semingly-reformist old regime as u can see when ginandjar fluently talks of democracy in kompas?

    best,
    sulfikar

  2. arielh
    Posted December 2, 2007 at 2:30 pm | Permalink

    Dear Bung Sulfikar, thanks for your comment. I thought I raised so many points there. Perhaps too many and not a simple and straightforward one. I am sorry if they are not clear. Ariel

  3. Posted December 4, 2007 at 8:01 am | Permalink

    you did raise many intriguing points. i guess i was struck by your concluding question that souds to me very skeptical toward democracy, something shared by pak vedi in his decentralization paper.

    best,
    sa

  4. Posted December 4, 2007 at 8:14 am | Permalink

    I am afraid democracy remains the best aspiration (or one of the best aspirations) we have today. But different people mean it differently. That’s fine with me as long as they recognize these differences. For some, including myself, it means a project that requires hard work, time, and tolerance to differences for the common good. For others it refers to some sort of magic. In many parts of Asia, I see people basically mean “leave us alone” when they say they want democracy.

  5. Posted December 4, 2007 at 8:29 am | Permalink

    now i got your main point, which i agree. takes hard work to make it work. well, let’s work hard then.

    best,
    sa

  6. nengsri
    Posted July 7, 2008 at 11:06 pm | Permalink

    aku gak tahu apa aku benar mmebuka situs ini aku bingung kemana aku mencari keadilan untuk aku? aku dipecat dari pekerjaan hanya karna aku memakai jilbab..aku gak tahu kemana mencari keadilan? di negara yg katanya demokrasi?

  7. dewin`
    Posted December 15, 2008 at 5:14 pm | Permalink

    aku cuma mau tau, demokrasi barat itu apa??

  8. Posted May 5, 2009 at 10:55 pm | Permalink

    Mau tanya pengertian demokrasi menurut beberapa ahli dan implementasi di dalam penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia.

    Terima kasih

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*