Obama dan Pemilih Muda Kita

Tulisan di bawah ini dikutip dari editorial Koran Tempo, 11 Januari 2008. Ia memberikan sebuah pesan sangat penting untuk disebarkan ke kaum muda di seluruh Indonesia.

Obama dan Pemilih Muda Kita

“Obamamania” yang menggetarkan jagat politik Amerika itu sedang menyatakan suatu pesan penting.

Hati kami bersama Barack Obama. Peluang kandidat Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat ini masih diharap-harap cemas. Rabu lalu, langkahnya tersendat di kaukus New Hampshire, setelah kalah tipis oleh rival terberatnya, Senator Hillary Clinton. Meski demikian, satu hal sudahlah pasti. “Obamamania” yang menggetarkan jagat politik Amerika itu sedang menyatakan suatu pesan penting.
Simpati kami bukan semata karena Obama cilik pernah bersekolah di Sekolah Dasar Negeri Menteng 1, Jakarta. Juga bukan hanya karena dia dijuluki seorang “idealis sinting”–dalam bukunya, The Audacity of Hope, Senator Obama berjanji akan menyembuhkan luka politik Amerika yang kronis dibelah garis partisan. Dia menebarkan inspirasi buat Indonesia setelah pekan lalu Obama, yang berayah Kenya, merebut kemenangan gemilang di kaukus Iowa–negara bagian yang nyaris didominasi warga kulit putih.
Analis politik bersepakat kemenangan bersejarah itu antara lain dihasilkan dengan satu faktor: sokongan kaum muda. Data menunjukkan para mahasiswa berbaris di belakang Obama. Dia merebut 57 persen suara pemilih berusia 17-29 tahun dan mendominasi bilik suara di kota-kota kampus. Tak cuma itu, sukses ini diraih berkat kerja keras tim kampanyenya yang terdiri atas anak-anak muda yang masih dan baru lulus kuliah.
Kegairahan di Iowa itu membuat kami tercenung. Fenomena itu sepertinya kontras dengan apa yang kita lihat di Tanah Air. Peringatan pakar politik Saiful Mujani, misalnya, perlu kita simak. Menurut dia, dari berbagai studi yang digelar Lembaga Survei Indonesia, perilaku pemilih muda kita menampilkan potret yang kelabu saat dicek silang dengan variabel sosial ekonomi.
Di segmen menengah ke bawah, tingkat partisipasi politik kelompok ini (dalam bentuk mengikuti pemilihan umum) cukup tinggi. Penyebabnya, kalangan ini gampang dimobilisasi oleh partai. Hal sebaliknya terjadi di strata menengah ke atas. Kelompok yang lebih berpendidikan ini justru bersikap skeptis terhadap dunia politik. Dari sejumlah pemilu sejak 1999, survei LSI mendeteksi partisipasi kelompok ini pada pemilu terus menurun. Tidak tajam, memang, tapi cukup mengkhawatirkan dalam jangka panjang.
Itu tentu bukan masa depan yang kita inginkan. Kita mual melihat politikus yang korup. Kita gemas melihat anggota Dewan tidur pulas di tengah sidang. Tapi produk pemilu ini bukan harga mati. Itu bisa kita ubah.
Harapan perubahan ada di kelompok pemilih yang lebih kritis dan rasional. Dalam hal inilah, menggairahkan partisipasi politik pemilih muda yang terdidik punya arti strategis bagi arah politik kita ke depan. Apalagi, pada Pemilu 2009, kelompok ini punya posisi menentukan. Dari sekitar 170 juta pemilih, hampir 60 persen di antaranya adalah mereka yang berusia 20-40 tahun.
Kita ingin memiliki banyak Obama di Senayan. Kita mau “the Audacity of Hope” juga berpendar di mimbar politik nasional. Untuk itu, pelajaran dari Iowa tak boleh dilewatkan.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*