Soeharto dalam Sejarah Menurut Asvi Warman Adam

Jawa Pos
Senin, 07 Jan 2008,
Poralisasi Opini terhadap Soeharto

Oleh Asvi Warman Adam

Ketika mantan Presiden Soeharto masuk rumah sakit beberapa hari lalu, timbul opini yang berlawanan di tengah masyarakat. Ketua DPR Agung Laksono mengatakan agar proses hukum terhadap orang nomor satu Orde Baru itu dihentikan, mengingat jasa-jasanya selama 32 tahun memerintah negeri ini. Namun, mantan Ketua MPR Amien Rais menolak keras pandangan tersebut. Meski dianggap berjasa besar, mantan Presiden Abdurrahman Wahid menilai proses hukum terhadap Soeharto harus diteruskan bila dia sembuh dari sakitnya.

Bagaimana polarisasi opini masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan dan kepemimpinan Soeharto selama tiga dekade?

Pandangan tersebut dapat dibagi atas empat golongan, yaitu 1) sangat memuji, 2) pragmatis, 3) kritis, dan 4) sangat kritis. Penamaan tiap-tiap kategori itu tentu bisa dielaborasi lagi. Golongan pertama terdiri atas para pembantu presiden (seperti menteri bahkan wakil presiden), politisi yang pernah diuntungkan rezim atau yang ingin menyenangkan hati Soeharto.

Kelompok kedua adalah para teknokrat yang pernah menjadi menteri dan pejabat tinggi atau pakar yang melihat aspek positif dari ekonomi Orde Baru. Kategori ketiga adalah pengamat dan aktivis LSM yang kritis terhadap kepemimpinan Soeharto yang dinilai otoriter. Kelompok terakhir adalah mereka yang bersuara sangat keras terhadap korupsi dan pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintahan Soeharto.

Sikap kelompok pertama yang boleh dikatakan pendukung “Bapak Pembangunan” itu tecermin dalam judul-judul tulisan yang mereka persembahkan dalam peringatan 70 tahun Soeharto. Jailani Naro yang pernah mengintervensi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memuja Soeharto sebagai “Penyelamat Pancasila”.

Wakil Ketua DPR/MPR 1987-1992 Mayjen R Sukardi menganggap Soeharto “Memegang Teguh Konstitusi”. Jenderal Edi Sudrajat tidak kepalang tanggung mengatakan bahwa dia adalah “Negarawan Puncak Bangsa”. Mantan gubernur DKI R Suprapto melihat Soeharto “Memiliki Indra Keenam”.

Habibie mengatakan bahwa Soeharto “Menyatu dengan Aspirasi Bangsa”. Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno berkeyakinan bahwa Soeharto adalah “Pemimpin yang Paripurna” .

Kelompok kedua yang pragmatis terlihat dari judul tulisan mereka. Sarwono Kusumaatmaja memuji “Keunggulan Strategi” Soeharto. Gandhi, mantan ketua BPKP, menilai bahwa Soeharto telah “Menghilangkan dan Mencegah Penyelewengan”. Peneliti senior LIPI Thee Kian Wie melihat dalam perkembangan ekonomi Indonesia pasca-1965 terjadi “Mukjizat Orde Baru”.

Kategori ketiga yakni pihak oposisi atau kelompok yang kritis tecermin dalam pandangan intelektual seperti Baskara Wardaya yang menyimpulkan bahwa Soeharto adalah “Orang Kuat” Indonesia. Hal itu dimungkinkan karena dia berkuasa terlalu lama, lebih dari 30 tahun.

Sebetulnya golongan keempat tidak berbeda jauh dengan kelompok ketiga. Namun, pada kalangan terakhir ini rumusan atau julukan yang mereka berikan terhadap Soeharto lebih keras dan tajam. George J. Aditjondro adalah salah satu di antara pakar yang sangat gencar meneliti dan mengajarkan -di luar negeri- tentang korupsi rezim Orde Baru. Dia menulis buku tentang perbandingan korupsi era Soeharto dengan Habibie berjudul Murid Kencing Berlari.

Sebuah tim Komnas HAM yang dipimpin M.M. Billah pada 2002 pernah mengkaji pelanggaran berat HAM oleh Soeharto. Mereka menyimpulkan terdapat indikasi pelanggaran berat HAM, sungguh pun kesimpulan itu tidak ada tindak lanjutnya.

Ariel Heryanto menulis buku bahwa semasa Orde Baru telah terjadi state terrorism alias terorisme negara. Wimanjaya, penulis buku berjudul Primadosa Soeharto, sempat diperiksa oleh aparat hukum. Namun, hujatan paling keras dilontarkan dalam buku yang kini sulit didapat di Indonesia tapi ada pada daftar katalog perpustakaan University of Washington, yaitu buku yang ditulis Kharil Ghazali Al-Husni berjudul 15 Dalil Soeharto Masuk Neraka (Jakarta, penerbit Muthmainnah).

Di Tengah-Tengah

Saya sendiri berupaya berada di tengah-tengah dan beranggapan bahwa dewasa ini sangat sulit menilai Soeharto. Perlu waktu beberapa tahun untuk menunggu situasi yang lebih tenang sehingga kita dapat mengeluarkan pendapat yang jernih.

Namun, cukup menarik pendapat seorang responden seperti yang disampaikan kepada saya oleh Denny J.A.. Direktur Lingkaran Survei Indonesia itu mengirimkan SMS kepada saya sehabis melakukan survei tentang pendapat masyarakat mengenai mantan Presiden Soeharto. Pendapat unik diberikan seorang responden bahwa Soeharto itu “pembangun terbesar sekaligus perusak terbesar” Indonesia.

Saya kira pandangan itu ada benarnya. Sudah banyak yang dibangun secara fisik oleh Soeharto selama memerintah demikian lama. Namun, begitu banyak kerusakan yang ditimbulkannya seperti utang yang membebani sampai anak cucu kita, hutan gundul, (mentalitas) korupsi yang merajalela, belum lagi kasus-kasus pelanggaran berat HAM sejak 1965 sampai dengan 1998.

Dr Asvi Warman Adam, ahli Peneliti Utama LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) di Jakarta

2 Comments

  1. Posted February 7, 2008 at 5:25 pm | Permalink

    i think asvi’s book clearly tells us which category he is fit to.

  2. Posted February 7, 2008 at 5:27 pm | Permalink

    oopp….the image i attached does not show up.
    here’s the link
    http://www.ambarrukmo.com/members/deeje_12/image/1183740575.jpg

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*