dari “Asal Usul”, Kompas
Minggu, 20 April 2008 | 12:31 WIB
Ariel Heryanto
Bayangkan. Ketika sedang jalan-jalan cari angin di pusat kota, kita dihadang kemacetan total. Jalan utama dinyatakan tertutup. Seakan-akan musibah atau ada kecelakaan lalu lintas. Terdengar sirine meraung-raung. Orang berkerumun. Sebagian tampak panik. Mereka merubung sesuatu di pinggir jalan.
Kita mendekati kerumunan orang untuk cari tahu. Masyallah. Ternyata yang dikerubung cuma seonggok kotoran anjing. Orang memaki-maki pemilik anjing. Sesudah benda najis itu dibersihkan petugas, orang masih berdebat berpanjang lebar.
Para pemilik toko di sekitar tempat itu membuat pengumuman bahwa mereka bukan pemilik anjing yang sembrono. Mereka tidak ikut bertanggung jawab dan mengutuk si pemilik anjing. Orang-orang terus membahas bahaya kotoran yang dibuang sembarangan bagi kesehatan. Dan dampaknya bagi keindahan kota.
Kisah itu tidak terjadi di Singapura yang terkenal anti pembuangan sampah di sembarang tempat. Ini terjadi di Indonesia, walau dalam bentuk kiasan untuk perdebatan orang tentang video berjudul Fitna. Kotoran anjing di pinggir jalan bisa dijumpai di banyak negara di dunia. Sebanyak itu pula video kotoran dalam jagad maya. Fitna hanya salah satunya. Jika menjumpai kotoran anjing di jalanan, biasanya kita akan menyingkir atau menghindar. Lalu melupakan.
Mengapa Fitna mendapatkan perhatian berlimpah? Menurut laporan, dalam rekaman lalu-lintas internet google, Indonesia mencapai rekor tertinggi sebagai negara pemerhati video Fitna. Orang mungkin didorongingin tahu gara-gara keputusan pemerintah menutup beberapa akses internet terbesar di dunia.
Ketika oposisi Partai Islam Se-Malaysia (PAS) menjadi ancaman bagi pemerintah Malaysia, PM Mahathir meng-Islam-Islam-kan penampilan dan program pemerintahannya. Dengan memanfaatkan agama sebagai kosmetika politik, ia mencoba menebar pesona lebih “Islami” ketimbang PAS.
Presiden Suharto pernah melakukan siasat mirip, walau tidak sama. Setelah belasan tahun mengandalkan penindasan militer untuk mengawetkan kekuasaannya, ia sadar taktik itu ada batasnya. Di akhir tahun 1980an Ia sadar merangkul politik Islam akan lebih menguntungkan ketimbang terus-menerus menindas mereka.
Suharto mendadak naik haji di tahun 1990, lalu mendirikan ICMI. Sejumlah narapidana politis berbasis Islam dibebaskan serentak sebelum masa hukuman mereka berakhir. Setelah bertahun-tahun pemerintah mengharamkan politik Islam sebagai “ekstrem kanan”, sejak 1990 pengadilan sibuk berkali-kali mengadili kasus orang yang dianggap menghina Islam. Setelah bertahun-tahun melarang jilbab masuk sekolah, putrinya memakai jilbab kemana-mana. DPR mendadak ijo-royo-royo (menghijau).
Presiden Habibie juga melakukan yang serupa dengan cara lebih kasar ketika berusaha menyelamatkan kursi kepresidenan yang didapatkannya secara tak sengaja dan untuk sementara waktu. Dibantu sejumlah jendral yang suka berpolitik, pemerintahannya mengerahkan pasukan swakarsa untuk menghadapi sisa-sisa gerakan Reformasi dengan kekerasan jalanan. Menentang Habibie dianggap sama dengan menentang Islam, menurut slogan mereka.
Semua itu bertolak belakang dari tingkah presiden berikutnya, Abdurahman Wahid. Atribut ke-Islam-annya sudah berlimpah jauh hari sebelum ia menjadi presiden. Maka ia tidak pernah merasa perlu berusaha membuktikan hal ini. Ia tampil santai. Tapi bukan tidak merasa perlu menebar pesona versi lain.
Bukannya berjihad membela Islam, ia mempesona banyak pihak dengan tampil sebagai tokoh Islam yang mau dan mampu memberikan yang terbaik kepada kaum non-Muslim. Ia mengizinkan komunitas Tionghoa merayakan Imlek. Ia bahkan mengaku punya keturunan Tionghoa. Ia meminta maaf pada korban kejahatan hak asasi kemanusiaan berat tahun 1965 yang dikaitkan dengan komunisme. Juga kepada rakyat Timor Timur.
Pemerintahan yang sekarang? Pesona macam apa yang dicoba ditebarkan kepada publik? Nyatanya, pemerintah ini gagal menangkap otak pembunuhan Munir. Korban lumpur Lapindo masih terlantar. Pemerintah gagal mengadili Suharto dan para jendralnya.
Apakah reaksi pemerintah terhadap video Fitna menjadi petunjuk usaha mereka tampil sebagai pahlawan pembela Islam? Jika itu ada benarnya, kita bisa memahami reaksi mereka terhadap larisnya filem Ayat-Ayat Cinta.
Presiden nonton filem lalu menangis itu biasa. Yang tidak biasa bila mereka lakukan itu dengan membawa rombongan resmi lebih dari 100 pejabat tinggi negara dan tamu negara asing dan wartawan. Mereka bukan cuma nonton filem, tapi sedang membuat tontonan publik untuk diliput media massa.
Banyak yang meramalkan segera akan ada seri-seri lanjutan mirip video Fitna dan filem atau sinetron Ayat-ayat Cinta. Semua ini mempersiapkan kita melahap pesona janji-janji baru pemilu mendatang. Dan sekaligus lupa pada janji-janji kosong pemilu yang lalu. Apalagi pada komitmen reformasi 1998.
asal-usul-pesona.pdf

8 Comments
Biasalah Pak Ariel, yang sedang duduk di kursi hobinya kan mengurusi hal yang tidak perlu dan mengabaikan hal yang perlu diurus. Tanpa harus muncul di koran juga…saya pasti akan rajin kemari. Terus menulis ya pak
tulisan ini bagus
Pembelajaran buat saya dan mungkin kita semua. Di era seperti skrg ini, media sekelas Kompas pun ternyata masih punya rasa “takut”. Artinya, bagi saya dan mereka yg tidak “sebesar” Kompas, sikap hati-hati itu masih diperlukan. Good luck utk mas Ariel.
thanks Pak Ariel. Renungan yang benar. Memang sekarang penuh kosmetika politik karena politik yang berjalan adalah “politik semua senang”
Hmm..”pesona”? aku agak bingung baca tulisannya. Mengapa islam seakan dijadikan akar polemik?
Nyantai aja pak…islam udah dijadikan sasaran pelaku terorisme koq
Pak Ariel, moga tetap berkarya ya, tulisannya pencerahan banget, sayang kalau akhirnya saya KEHILANGAN.
Percayalah, pembaca tulisan Anda luar biasa banyaknya, dan akan terus mencarinya, KOMPAS hanya salah satu mendia saya mencari tulisan Anda, media lain kan banyak pak, via blog juga OK banget lo.
Kalo bapak gak terusin DOSA lo!!!! …..:-)
Refleksi yang cukup menyentuh… Meski ga terbit dikompas, toh saya dan kita semua masih bisa menikmatinya dan merenunginya…
Hehehe, sungguh tulisan yang menampar jika dimuat pada edisi cetak. Tapi rasanya tak mengapa jika benar2 di muat pada edisi cetak…
saya suka tulisan ini
2 Trackbacks
[…] May 2007 « Pesona […]
[…] Ariel sebetulnya sempat mengirimkan naskah untuk dimuat di rubrik Asal Usul. Tapi, naskah berjudul Pesona itu ternyata ditolak redaksi. Naskah itu ditolak untuk diterbitkan dengan alasan “resiko […]