Akhir Sebuah Cerita

Artikel berjudul “Pesona” yang dipasang sebelum ini merupakan artikel terakhir yang saya terbitkan untuk rubrik tetap “Asal Usul” di harian Kompas edisi Minggu. Pada akhir April 2008, redaksi Kompas memutuskan untuk menghapuskan rubrik tersebut, tanpa menyebutkan alasan.

Menurut catatan redaksi Kompas, rubrik “Asal Usul” sudah berusia 23 tahun. Atas undangan redaksi, artikel saya yang pertama kali diterbitkan dalam rubrik itu berjudul “Sumpah Plesetan”, bertanggal 22 Oktober 1995. Jadi bisa dikira-kira sendiri berapa naskah yang sudah saya tulis sejak itu hingga April 2008.

Ada banyak suka-duka menjadi penyumbang tetap tulisan untuk rubrik semacam ini. Sukanya jelas: undangan untuk menulis di rubrik itu merupakan sebuah kehormatan istimewa. Saya bebas menulis topik yang saya suka, dan peluang untuk dimuat sangat besar, karena memang sudah disediakan ruang dan jadwal untuk itu. Lewat rubrik itu, saya bisa berkomunikasi dengan banyak pembaca dari berbagai latar belakang, karena Kompas merupakan salah satu koran nasional dengan oplah terbesar di Asia Tenggara. Saya sering menerima tanggapan mereka lewat email pribadi.

Di tahun 1990an rubrik Asal Usul diterbitkan dengan foto penulisnya. Seorang karikaturis bernama Jitet Koestana yang belum pernah berjumpa saya mengirimkan sebuah hadiah tak terduga lewat pos ke alamat saya. Dia membuat sebuah lukisan besar berdasarkan foto saya di rubrik itu:

karikatur_ariel.jpg

Tapi juga ada susahnya. Masa paling sulit ketika terjadi pergolakan politik menjelang runtuhnya kekuasaan pemerintah Orde Baru (1998). Saya harus mengikuti gejolak yang berkembang pesat dan bisa berubah ke berbagai arah setiap jam, jika bukan menit. Saya selalu berharap apa pun yang saya tulis harus segar untuk diterbitkan pada hari Minggu yang dijadwalkan untuk saya, walau naskah itu harus saya kirimkan dua hari sebelumnya. Jadi naskah saya tidak bisa disiapkan jauh-jauh hari sebelum jadwal, dan bersifat sangat umum.

Susahnya lagi, pada waktu itu saya sedang banyak melakukan perjalanan ke manca negara. Ketika Suharto membacakan naskah pengunduran dirinya, saya mengikutinya dilayar televisi di bandara udara Changi, Singapura dalam perjalanan menuju Manila untuk mengikuti sebuah konperensi.

Pada waktu itu teknologi laptop dan sambungan internet belum seperti sekarang. Setiba di Manila saya harus menyewa komputer dan sambungan internet di business centre hotel yang taripnya dihitung per jam. Selain harus menyiapkan sebuah naskah pada saat akhir supaya up-to-date, lewat internet saya juga perlu memeriksa perkembangan menit-menit terakhir di tanah air beberapa saat setelah Suharto turun.

Sialnya, panitia konperensi di Manila menempatkan saya di sebuah hotel berbintang 5. Saya tidak tahu dan tidak punya waktu untuk mencari warnet di Manila yang lebih sederhana. Beaya sewa peralatan teknologi informasi di ruang mewah itu jauh melampaui honorarium yang bisa saya terima seandainya tulisan saya dimuat. Ternyata memang naskah yang saya siapkan dengan susah payah itu tidak dimuat karena dianggap terlalu “keras”.

Pengalaman seperti itu bukan hanya sekali. Tetapi saya tidak bisa terlalu banyak mengeluh atau menyalahkan redaksi Kompas. Seperti saya katakan di atas, undangan untuk menjadi penulis tetap di rubrik itu sudah merupakan kehormatan istimewa untuk saya. Untuk itu saya sudah sangat berterima kasih.

Saya sendiri menduga, Kompas mungkin belakangan hari agak menyesal telah mengundang saya menjadi salah seorang penulis “Asal Usul” karena naskah-naskah yang saya masukkan mungkin tidak selalu sesuai dengan selera redaksi. Harap maklum susunan redaksi harian itu juga berubah-ubah semasa saya menulis untuk “Asal-Usul” 1995-2008. Beberapa tahun lalu, dengan setengah bergurau, seorang redaktur senior menggoda rekannya sekantor di hadapan saya ketika saya berkunjung ke kantor mereka: “Ariel, ini dia stress berat kalau sudah terima naskah dari kamu.”

O, iya. Naskah terakhir saya berjudul “Pesona” punya cerita tersendiri di penghujung sejarah rubrik “Asal Usul”. Naskah itu ditolak untuk diterbitkan dengan alasan “resiko keamanan”. Yang menarik, penolakan itu dilakukan pada saat-saat terakhir edisi Kompas Minggu hampir naik cetak. Saya menduga naskah itu sempat lolos seleksi redaksi pada rapat sebelumnya. Mungkin perbedaan pandangan dan selera yang cukup penting terjadi di antara staf redaksi sendiri. Dan walau naskah saya itu pada akhirnya tidak tampil dalam edisi cetak, naskah itu dimuat dalam Kompas online.

Jadwal untuk mengisi rubrik “Asal Usul” bulan Mei sudah diedarkan. Kemudian jadwal itu ditarik lagi dan dinyatakan batal. Kayaknya ada banyak stress di kantor mereka. Moga-moga kini dengan ditutupnya rubrik “Asal Usul”, damai dan sejahtera lebih bisa dinikmati rekan-rekan yang bekerja di perusahaan media besar tersebut.

24 Comments

  1. melani
    Posted May 15, 2008 at 12:22 pm | Permalink

    Ariel,
    Sayang sekali Asal Usul tidak akan memuat esaimu yang saya duga membuat Kompas banyak dicari orang.Tapi ini mestinya tidak jadi akhir sebuah cerita, karena saya harapkan Anda akan menerbitkan kumpulan kolom tersebut. Pasti banyak penerbit tertarik, termasuk Penerbit Kompas!!!

  2. Posted May 15, 2008 at 4:24 pm | Permalink

    Waduh…saya tidak sadar kalau kolom Asal Usul dihilangkan…hu..hu..hu…itu kolom kesukaan saya di Kompas (malah saya pengen usul kolom ini masuk ke Kompas online-sebelumnya tidak ada di versi online). Bung Ariel dan Mohammad Sobary termasuk dua nama penulis yang saya tunggu-tunggu tulisannya.

  3. Andreas Saptono
    Posted May 15, 2008 at 6:36 pm | Permalink

    Saya sangat sedih dan kecewa kolom asal usul dihilangkan.Kalau baca Kompas minggu,kolom itu yang pertama saya cari.Apalagi kalau penulisnya Ariel.Malah saya ingin tiap Minggu Ariel yang mengisinya.

  4. Posted May 16, 2008 at 3:44 pm | Permalink

    akhir sebuah cerita? saya kok malah menganggapnya sebagai awal sebuah sejarah ya? bukankah bung ariel masih tetap bisa menerbitkan esai yang sama dengan di Asal Usul di blog ini? ayo bung, teruslah menulis Asal USul yang lain supaya kami selalu mendapatkan pencerahan dari sampean.

  5. Posted May 16, 2008 at 6:28 pm | Permalink

    lho…hilang? aih, sayang.

  6. Posted May 16, 2008 at 7:31 pm | Permalink

    Terima kasih, bung Ariel. Sesegera mungkin kusadarkan Papa saya di Manado. Dia kini masih langganan Kompas, itu pasti karena belum sadar.

  7. ajaraedi
    Posted May 16, 2008 at 8:35 pm | Permalink

    Mas Ariel yang baik, tetap semangat ya.. saya akan tetap mencari artikel-artikel terbaru Anda di blog ini..salam buat keluarga, mohon jaga kesehatan. salam

  8. Posted May 16, 2008 at 10:48 pm | Permalink

    Santai aja Bang! Sebuah pertanda kalau anda akan lebih diperhitungkan.
    *halaah….*
    :lol:

  9. Posted May 17, 2008 at 1:54 am | Permalink

    Saya termasuk orang yang kehilangan, saya belajar banyak dari Asal Usul. Tapi satu yang pasti, saya tahu Anda tak akan berhenti menulis . Tetap semangat :)

  10. Posted May 17, 2008 at 6:01 am | Permalink

    sayang :(

  11. Posted May 17, 2008 at 9:02 am | Permalink

    http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=8269&post=

  12. Posted May 17, 2008 at 10:39 am | Permalink

    pantesan, ini toh alasan “asal usul” ilang dari Kompas. kalo tidak dari blog-nya mas Ariel ini, saya tidak tahu dan masih suudzon bahwa ilangnya ‘asal-usul’ hanya bersifat temporer belaka. ternya……permanen ya….what the hell…!!!!.
    tetap nulis di blog aja ya mas, kalo perlu semua naskah asal-usul yang belum diedit redaksi dibukukan ajah. kami menunggu….
    salam

  13. Posted May 17, 2008 at 12:34 pm | Permalink

    wah sayang ya. saya mengikuti rubrik itu sejak kuliah.

  14. Posted May 17, 2008 at 12:34 pm | Permalink

    pindahin ke blog aja Kang Ariel :D
    sayang kalo pencerahan dari anda tidak bisa di nikmati khalayak

  15. Wahyu Wirawan
    Posted May 17, 2008 at 2:35 pm | Permalink

    Akhirnya yang bung Ariel katakan pada saya lewat email kenyataan “kompas harus segera cari penulis baru yang lebih lunak” ha..ha.. Atau ada baiknya bikin koran sendiri biar tulisannya semua termuat dan idenya bung Ariel tersampaikan. Salam

  16. allianda
    Posted May 17, 2008 at 3:03 pm | Permalink

    besok hari minggu…ah sayang sekali…

    iya, diterbitin saja jadi buku..saya pasti beli :)

  17. Posted May 17, 2008 at 3:32 pm | Permalink

    Aih, iya betul.. sayang kok hilang!
    Saya setuju dengan Ndorokakung, menulislah di blog, niscaya tidak akan ada alasan aman atau tidak aman!

    Tetap ngeblog!

  18. Posted May 18, 2008 at 5:20 am | Permalink

    pak ariel, sayang sekali kolomnya ‘hilang’. setuju dengan rekan-rekan lain, kan masih ada blog dan facebook. hehehe

  19. Nunur Hidayat
    Posted May 19, 2008 at 8:08 pm | Permalink

    Wah eman..padahal tulisan2 pak ariel di situ khan satire banget. Saya aja ketawa sambil geleng2 kepala membacanya. Yang paling penting g ada nada menggurui. Dan pastinya sangat mencerahkan.
    Dibukukan ajak Pak. Atau ditulis di media online. Maksudnya pragmatis sih, supaya saya terus bisa me-guru dari bapak..

    Salam,
    NH.

  20. Posted May 22, 2008 at 7:29 am | Permalink

    Rekan-rekan: terima kasih untuk semua komentar yang membesarkan semangat. Apalah artinya seorang penulis seperti saya tanpa pembaca yang mendewasakan seperti kalian. Sayangnya saya bukan penulis blog yang rajin. Mungkin karena kurang ada tantangan yang memaksa. Kebebasan tidak selalu memicu orang bertindak. Saya akan mencoba menegakkan disiplin sendiri untuk menulis ajeg, walau tidak dituntut jadwal dengan lembaga formal seperti dulu.

    Terima kasih juga untuk koreksi Mbah MD di blognya http://kookkaburra.blogspot.com/2008/05/asal-usul-show-must-go-on.html atas salah ketik pada judul tulisan saya. Sekarang sudah saya koreksi.

  21. Posted May 22, 2008 at 9:30 am | Permalink

    Selamat pagi AH, maaf baru mampir dan meninggalkan pesan. Saya beberapa hari yang lalu terdampar di blog Bapak lewat blog-nya Ndoro Kakung. Tulisan saya tersebut sebenarnya sudah mengendap selama 24 jam (dalam bentuk draft, di blog) - krn ingin diterbitkan pas Harkitnas dan baru diterbitkan tgl 21 - saya tidak punya banyak waktu, jadi kalau menulis harus menyicil. Terima kasih yang tak terhingga sudah mengutip nama saya di komentar Anda (no. 20)

    Saya setuju tuh kalau tulisan-tulisan Anda yang terdahulu diterbitkan ulang di blog. Seperti Ca-Ping nya GM, yang diterbitkan ulang dan diterbitkan oleh salah satu penggemar GM. Salam.

  22. Sarinten
    Posted May 26, 2008 at 9:09 pm | Permalink

    Awal Sebuah Kisah

    Saya kenal Pak Ariel semenjak saya mengikuti mata kuliah beliau Maret 2001. Hubungan kami waktu itu hanya sebatas pertemuan di ruang kuliah. Saya lulus Desember 2001.

    Bisa dibilang, persahabatan saya dengan Pak Ariel berawal dari percakapan tentang rubrik ‘Asal Usul’. Saya tidak sengaja ketemu beliau pada tanggal 17 April 2003. Waktu kami ngobrol, saya memberikan komentar tentang salah satu artikel terbarunya yang dimuat di rubrik ‘Asal Usul’.

    Tanpa disangka-sangka, beliau menghubungi saya lewat email bulan Juni 2003 dan menawarkan pekerjaan kepada saya. Saya sempat kaget juga. Tawarannya saya terima dan saya mulai bekerja untuk beliau Maret 2004.

    Ada banyak suka dukanya.

    Sebagai seorang bos, Pak Ariel memimpin dengan cara memberikan contoh. Beliau pekerja keras yang berdedikasi tinggi.
    Teliti, teratur dan disiplin.
    Sebagai bawahan, saya berusaha mengikuti gaya kerjanya, walau saya sering merasa standar saya masih jauh di bawah beliau.

    Pak Ariel memberikan kebebasan dan kepercayaan, tapi beliau tetap mengawasi saya dan selalu menolong kalau ada yang tidak bisa saya tangani.
    Kombinasi ini membuat saya menjadi lebih berinsiatif dan mandiri, sekaligus merasa diperhatikan dan didukung.
    Ada juga dukanya bekerja dengan Pak Ariel walau tidak disebabkan oleh beliau.

    Status saya pekerja lepas. Kontrak saya tiga bulan dan belum tentu akan diperbaharui karena sangat tergantung dari ada tidaknya dana di institusi tempat kami bekerja. Saya menyadari kondisi kerja tersebut waktu saya menerima tawaran pekerjaan ini. Tapi saya tidak tahu sebelumnya betapa egois dan dinginnya institusi tersebut.

    Pak Ariel selalu memberitahu jauh sebelum waktunya kalau beliau ingin memperbaharui kontrak saya. Sayangnya pihak institusi tidak demikian. Mereka sama sekali tidak memperhatikan nasib pekerja lepas seperti saya. Persetujuan pembaharuan kontrak tidak diberikan sampai detik-detik terakhir. Pernah ada kejadian pihak institusi memberi tahu pada bulan November mereka menyetujui memperbaharui kontrak lalu bulan Januari mereka membatalkannya. Ada juga cerita yang lebih parah, walau tidak terjadi pada saya, ada pekerja lepas yang bahkan sudah mulai bekerja, lalu kontraknya dibatalkan begitu saja.

    Pak Ariel sangat tidak suka cara pihak institusi memperlakukan para pekerja lepas. Beliau membela kami dengan melawan dan memprotes. Tapi seperti semua hal di dunia materialistis ini, UUD - Ujung Ujungnya Duit.
    Mereka yang punya uanglah yang berkuasa.

    Ada banyak hal yang membuat saya menggangap Pak Ariel lebih dari sekedar seorang bos.

    Pak Ariel tidak berhenti menjadi guru saya. Beliau dengan murah hati mengajarkan banyak hal kepada saya, tidak hanya sebatas masalah kantor, tapi juga tentang masyarakat dan bahkan kehidupan.
    Pak Ariel tidak perlu membela nasib pekerja lepas seperti saya, tapi hal itu tetap beliau lakukan. Walaupun akhirnya pihak institusi yang ‘menang’, setidak-tidaknya saya merasa masih ada orang yang mau menolong dan berada di pihak saya.

    Redaksi Kompas menghapuskan rubrik ‘Asal Usul’ tanpa memberikan alasan yang jelas. Padahal rubrik itu bukan hanya bermanfaat bagi para penulis untuk menyampaikan ide mereka tapi juga memperluas wawasan para pembaca, mengajak mereka merenungkan masalah sosial Indonesia dan mengusik nurani mereka untuk tidak tinggal diam.

    Banyak sekali orang yang bertindak seperti redaksi Kompas, atau institusi tempat saya bekerja - mereka membuat keputusan yang merugikan orang banyak tanpa memberikan alasan. Kalau pun ditanya kenapa, mereka menolak berkomunikasi.
    Setiap kali ada ketidakjelasan atau orang yang tidak mau berkomunikasi – saya marah dan frustasi. Kalau saya bilang ke Pak Ariel, beliau biasanya menjawab
    “Jangan tanya mengapa. Sebab tidak akan ada jawaban yang rasional. Hidup ini lebih Gerrr ketimbang Gerr-nya Putu Wijaya.”

    Rubrik ‘Asal Usul’ diakhiri redaksi Kompas April 2008 tanpa penjelasan.
    Saya memutuskan untuk mengakhiri karir saya di institusi tersebut November 2007. Salah satu alasannya saya tidak mau terus-terusan bekerja di tempat yang tidak peduli akan nasib saya.

    Terkadang hubungan atau karir kita berakhir tanpa kita inginkan, membuat kita merasa putus asa dan sedih luar biasa. Untungnya ada orang-orang seperti Pak Ariel yang selalu mengingatkan adanya harapan untuk mengawali sesuatu yang baru.

    Saya meniti karir lain sekarang. Semoga ada juga wacana lain untuk para penulis rubrik dan pembaca ‘Asal Usul’.

    Terima kasih rubrik ‘Asal Usul’ untuk mengawali persahabatan saya dengan Pak Ariel.

  23. spew-it-all
    Posted May 27, 2008 at 8:47 am | Permalink

    Ariel,
    Satu alasan kenapa saya masih membaca Kompas–walaupun online-adalah kolom asal-asul dan tentunya tulisan Bung Ariel.

    Saya sedih mendengar kabar bahwa Kompas akan menghapuskan rubrik tersebut. Ini berarti kenikmatan untuk membaca tulisan yang sarkastis polesan bung ariel harus terganggu.

  24. Yus
    Posted May 27, 2008 at 5:40 pm | Permalink

    Patut disesalkan keputusan Kompas itu apapun alasannya. Tulisan-tulisan Ariel dalam rubrik Asal Usul selama ini justru telah ikut mengasah otak dan mengasuh selera pembaca. Penutupan rubrik Asal Usul dengan Ariel sebagai salah satu penyumbang tetap selama lebih dari satu dasawarsa ini adalah suatu kehilangan besar bagi para pembaca. Ariel, semoga tulisan-tulisanmu dalam rubrik Asal Usul segera dibukukan.

One Trackback

  1. By Ndoro Kakung Pecas Ndahe on May 16, 2008 at 4:27 pm

    […] penjelasan resmi sedikit pun kepada khalayak. Sampean juga bisa membacanya di tulisan berjudul Akhir Sebuah Cerita di blog Ariel […]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*