<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.3.1" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Akhir Sebuah Cerita</title>
	<link>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/</link>
	<description>Just another Faculty Discussions weblog</description>
	<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 19:10:37 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.1</generator>
		<item>
		<title>By: Mekkel Nama Au</title>
		<link>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1534</link>
		<dc:creator>Mekkel Nama Au</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 05:28:20 +0000</pubDate>
		<guid>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1534</guid>
		<description>Saya mengikuti kolom Asal-Usul sejak masih SMA, tulisannya bagus-bagus dan menohok otak. Belakangan ada satu penulis yang tulisannya sudah mulai "sufistik berbau subjektif " atau sufistik yg pretentif" ga tau deh karena sufistik tak pernah menebar "ngga enak hati" . Tapi saya selalu menunggu tulisan Bung/Tuan/Pakde Ariel karena "gaul" ,akrobatik, melesat dan meleset dan terpleset dengan arah yang benar.
Usia artikel pertama Bung/Tuan/Pakde Ariel nya sudah 15 tahun juga. Dibidani dengan nama "Sumpah Plesetan" akhirnya mati dimakan "Sumpah Please Setan". Semoga setan tidak menghuni kolom yang ditinggalkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mengikuti kolom Asal-Usul sejak masih SMA, tulisannya bagus-bagus dan menohok otak. Belakangan ada satu penulis yang tulisannya sudah mulai &#8220;sufistik berbau subjektif &#8221; atau sufistik yg pretentif&#8221; ga tau deh karena sufistik tak pernah menebar &#8220;ngga enak hati&#8221; . Tapi saya selalu menunggu tulisan Bung/Tuan/Pakde Ariel karena &#8220;gaul&#8221; ,akrobatik, melesat dan meleset dan terpleset dengan arah yang benar.<br />
Usia artikel pertama Bung/Tuan/Pakde Ariel nya sudah 15 tahun juga. Dibidani dengan nama &#8220;Sumpah Plesetan&#8221; akhirnya mati dimakan &#8220;Sumpah Please Setan&#8221;. Semoga setan tidak menghuni kolom yang ditinggalkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: anton</title>
		<link>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1453</link>
		<dc:creator>anton</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 02:55:59 +0000</pubDate>
		<guid>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1453</guid>
		<description>waduh, saya malah tidak sadar kalau rubrik ini sudah tidak ada. soale beberapa minggu ini saya makin jarang baca kompas minggu.

dulu saya pembaca setia tulisan ini, terutama tulisan2nya kang harry. soale ngaco banget tulisannya. :) setelah kang harry almarhum, saya mulai jarang. 

tapi asal usul ttp jd salah satu rubrik yg saya baca meski tidak seantusias sebelumnya.

toh, meski saya bukan pembaca setia tulisan mas ariel, saya tetep berduka kalo rubrik itu dihapus. sbg gantinya, saya akan rajin baca tulisan di blog ini saja.

silakan lanjut, mas. seperti kata ndoro kakung, perjalanan br saja dimulai. :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>waduh, saya malah tidak sadar kalau rubrik ini sudah tidak ada. soale beberapa minggu ini saya makin jarang baca kompas minggu.</p>
<p>dulu saya pembaca setia tulisan ini, terutama tulisan2nya kang harry. soale ngaco banget tulisannya. <img src='http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> setelah kang harry almarhum, saya mulai jarang. </p>
<p>tapi asal usul ttp jd salah satu rubrik yg saya baca meski tidak seantusias sebelumnya.</p>
<p>toh, meski saya bukan pembaca setia tulisan mas ariel, saya tetep berduka kalo rubrik itu dihapus. sbg gantinya, saya akan rajin baca tulisan di blog ini saja.</p>
<p>silakan lanjut, mas. seperti kata ndoro kakung, perjalanan br saja dimulai. <img src='http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yus</title>
		<link>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1178</link>
		<dc:creator>Yus</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 May 2008 07:40:30 +0000</pubDate>
		<guid>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1178</guid>
		<description>Patut disesalkan keputusan Kompas itu apapun alasannya. Tulisan-tulisan Ariel dalam rubrik Asal Usul selama ini justru telah ikut mengasah otak dan mengasuh selera pembaca. Penutupan rubrik Asal Usul dengan Ariel sebagai salah satu penyumbang tetap selama lebih dari satu dasawarsa ini adalah suatu kehilangan besar bagi para pembaca. Ariel, semoga tulisan-tulisanmu dalam rubrik Asal Usul segera dibukukan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Patut disesalkan keputusan Kompas itu apapun alasannya. Tulisan-tulisan Ariel dalam rubrik Asal Usul selama ini justru telah ikut mengasah otak dan mengasuh selera pembaca. Penutupan rubrik Asal Usul dengan Ariel sebagai salah satu penyumbang tetap selama lebih dari satu dasawarsa ini adalah suatu kehilangan besar bagi para pembaca. Ariel, semoga tulisan-tulisanmu dalam rubrik Asal Usul segera dibukukan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: spew-it-all</title>
		<link>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1172</link>
		<dc:creator>spew-it-all</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 22:47:07 +0000</pubDate>
		<guid>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1172</guid>
		<description>Ariel, 
Satu alasan kenapa saya masih membaca Kompas--walaupun online-adalah kolom asal-asul dan tentunya tulisan Bung Ariel. 

Saya sedih mendengar kabar bahwa Kompas akan menghapuskan rubrik tersebut. Ini berarti kenikmatan untuk membaca tulisan yang sarkastis polesan bung ariel harus terganggu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ariel,<br />
Satu alasan kenapa saya masih membaca Kompas&#8211;walaupun online-adalah kolom asal-asul dan tentunya tulisan Bung Ariel. </p>
<p>Saya sedih mendengar kabar bahwa Kompas akan menghapuskan rubrik tersebut. Ini berarti kenikmatan untuk membaca tulisan yang sarkastis polesan bung ariel harus terganggu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sarinten</title>
		<link>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1166</link>
		<dc:creator>Sarinten</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 11:09:44 +0000</pubDate>
		<guid>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1166</guid>
		<description>Awal Sebuah Kisah

Saya kenal Pak Ariel semenjak saya mengikuti mata kuliah beliau Maret 2001.  Hubungan kami waktu itu hanya sebatas pertemuan di ruang kuliah.  Saya lulus Desember 2001.

Bisa dibilang, persahabatan saya dengan Pak Ariel berawal dari percakapan tentang rubrik ‘Asal Usul’.  Saya tidak sengaja ketemu beliau pada tanggal 17 April 2003.  Waktu kami ngobrol, saya memberikan komentar tentang salah satu artikel terbarunya yang dimuat di rubrik ‘Asal Usul’.

Tanpa disangka-sangka, beliau menghubungi saya lewat email bulan Juni 2003 dan menawarkan pekerjaan kepada saya. Saya sempat kaget juga.  Tawarannya saya terima dan saya mulai bekerja untuk beliau Maret 2004.


Ada banyak suka dukanya.

Sebagai seorang bos, Pak Ariel memimpin dengan cara memberikan contoh.  Beliau pekerja keras yang berdedikasi tinggi.  
Teliti, teratur dan disiplin.  
Sebagai bawahan, saya berusaha mengikuti gaya kerjanya, walau saya sering merasa standar saya masih jauh di bawah beliau.

Pak Ariel memberikan kebebasan dan kepercayaan, tapi beliau tetap mengawasi saya dan selalu menolong kalau ada yang tidak bisa saya tangani.
Kombinasi ini membuat saya menjadi lebih berinsiatif dan mandiri, sekaligus merasa diperhatikan dan didukung.
Ada juga dukanya bekerja dengan Pak Ariel walau tidak disebabkan oleh beliau.

Status saya pekerja lepas.  Kontrak saya tiga bulan dan belum tentu akan diperbaharui karena sangat tergantung dari ada tidaknya dana di institusi tempat kami bekerja.  Saya menyadari kondisi kerja tersebut waktu saya menerima tawaran pekerjaan ini.  Tapi saya tidak tahu sebelumnya betapa egois dan dinginnya institusi tersebut.  

Pak Ariel selalu memberitahu jauh sebelum waktunya kalau beliau ingin memperbaharui kontrak saya.  Sayangnya pihak institusi tidak demikian. Mereka sama sekali tidak memperhatikan nasib pekerja lepas seperti saya.  Persetujuan pembaharuan kontrak tidak diberikan sampai detik-detik terakhir.  Pernah ada kejadian pihak institusi memberi tahu pada bulan November mereka menyetujui memperbaharui kontrak lalu bulan Januari mereka membatalkannya.  Ada juga cerita yang lebih parah, walau tidak terjadi pada saya, ada pekerja lepas yang bahkan sudah mulai bekerja, lalu kontraknya dibatalkan begitu saja.

Pak Ariel sangat tidak suka cara pihak institusi memperlakukan para pekerja lepas.  Beliau membela kami dengan melawan dan memprotes.  Tapi seperti semua hal di dunia materialistis ini, UUD - Ujung Ujungnya Duit.
Mereka yang punya uanglah yang berkuasa.

Ada banyak hal yang membuat saya menggangap Pak Ariel lebih dari sekedar seorang bos.

Pak Ariel tidak berhenti menjadi guru saya.  Beliau dengan murah hati mengajarkan banyak hal kepada saya, tidak hanya sebatas masalah kantor, tapi juga tentang masyarakat dan bahkan kehidupan.
Pak Ariel tidak perlu membela nasib pekerja lepas seperti saya, tapi hal itu tetap beliau lakukan.  Walaupun akhirnya pihak institusi yang ‘menang’, setidak-tidaknya saya merasa masih ada orang yang mau menolong dan berada di pihak saya.


Redaksi Kompas menghapuskan rubrik ‘Asal Usul’ tanpa memberikan alasan yang jelas.  Padahal rubrik itu bukan hanya bermanfaat bagi para penulis untuk menyampaikan ide mereka tapi juga memperluas wawasan para pembaca, mengajak mereka merenungkan masalah sosial Indonesia dan mengusik nurani mereka untuk tidak tinggal diam.  


Banyak sekali orang yang bertindak seperti redaksi Kompas, atau institusi tempat saya bekerja - mereka membuat keputusan yang merugikan orang banyak tanpa memberikan alasan.  Kalau pun ditanya kenapa, mereka menolak berkomunikasi.  
Setiap kali ada ketidakjelasan atau orang yang tidak mau berkomunikasi – saya marah dan frustasi.  Kalau saya bilang ke Pak Ariel, beliau biasanya menjawab 
“Jangan tanya mengapa. Sebab tidak akan ada jawaban yang rasional. Hidup ini lebih Gerrr ketimbang Gerr-nya Putu Wijaya.”




Rubrik ‘Asal Usul’ diakhiri redaksi Kompas April 2008 tanpa penjelasan.
Saya memutuskan untuk mengakhiri karir saya di institusi tersebut November 2007.  Salah satu alasannya saya tidak mau terus-terusan bekerja di tempat yang tidak peduli akan nasib saya.  


Terkadang hubungan atau karir kita berakhir tanpa kita inginkan, membuat kita merasa putus asa dan sedih luar biasa.  Untungnya ada orang-orang seperti Pak Ariel yang selalu mengingatkan adanya harapan untuk mengawali sesuatu yang baru.

Saya meniti karir lain sekarang.  Semoga ada juga wacana lain untuk para penulis rubrik dan pembaca ‘Asal Usul’.

Terima kasih rubrik ‘Asal Usul’ untuk mengawali persahabatan saya dengan Pak Ariel.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Awal Sebuah Kisah</p>
<p>Saya kenal Pak Ariel semenjak saya mengikuti mata kuliah beliau Maret 2001.  Hubungan kami waktu itu hanya sebatas pertemuan di ruang kuliah.  Saya lulus Desember 2001.</p>
<p>Bisa dibilang, persahabatan saya dengan Pak Ariel berawal dari percakapan tentang rubrik ‘Asal Usul’.  Saya tidak sengaja ketemu beliau pada tanggal 17 April 2003.  Waktu kami ngobrol, saya memberikan komentar tentang salah satu artikel terbarunya yang dimuat di rubrik ‘Asal Usul’.</p>
<p>Tanpa disangka-sangka, beliau menghubungi saya lewat email bulan Juni 2003 dan menawarkan pekerjaan kepada saya. Saya sempat kaget juga.  Tawarannya saya terima dan saya mulai bekerja untuk beliau Maret 2004.</p>
<p>Ada banyak suka dukanya.</p>
<p>Sebagai seorang bos, Pak Ariel memimpin dengan cara memberikan contoh.  Beliau pekerja keras yang berdedikasi tinggi.<br />
Teliti, teratur dan disiplin.<br />
Sebagai bawahan, saya berusaha mengikuti gaya kerjanya, walau saya sering merasa standar saya masih jauh di bawah beliau.</p>
<p>Pak Ariel memberikan kebebasan dan kepercayaan, tapi beliau tetap mengawasi saya dan selalu menolong kalau ada yang tidak bisa saya tangani.<br />
Kombinasi ini membuat saya menjadi lebih berinsiatif dan mandiri, sekaligus merasa diperhatikan dan didukung.<br />
Ada juga dukanya bekerja dengan Pak Ariel walau tidak disebabkan oleh beliau.</p>
<p>Status saya pekerja lepas.  Kontrak saya tiga bulan dan belum tentu akan diperbaharui karena sangat tergantung dari ada tidaknya dana di institusi tempat kami bekerja.  Saya menyadari kondisi kerja tersebut waktu saya menerima tawaran pekerjaan ini.  Tapi saya tidak tahu sebelumnya betapa egois dan dinginnya institusi tersebut.  </p>
<p>Pak Ariel selalu memberitahu jauh sebelum waktunya kalau beliau ingin memperbaharui kontrak saya.  Sayangnya pihak institusi tidak demikian. Mereka sama sekali tidak memperhatikan nasib pekerja lepas seperti saya.  Persetujuan pembaharuan kontrak tidak diberikan sampai detik-detik terakhir.  Pernah ada kejadian pihak institusi memberi tahu pada bulan November mereka menyetujui memperbaharui kontrak lalu bulan Januari mereka membatalkannya.  Ada juga cerita yang lebih parah, walau tidak terjadi pada saya, ada pekerja lepas yang bahkan sudah mulai bekerja, lalu kontraknya dibatalkan begitu saja.</p>
<p>Pak Ariel sangat tidak suka cara pihak institusi memperlakukan para pekerja lepas.  Beliau membela kami dengan melawan dan memprotes.  Tapi seperti semua hal di dunia materialistis ini, UUD - Ujung Ujungnya Duit.<br />
Mereka yang punya uanglah yang berkuasa.</p>
<p>Ada banyak hal yang membuat saya menggangap Pak Ariel lebih dari sekedar seorang bos.</p>
<p>Pak Ariel tidak berhenti menjadi guru saya.  Beliau dengan murah hati mengajarkan banyak hal kepada saya, tidak hanya sebatas masalah kantor, tapi juga tentang masyarakat dan bahkan kehidupan.<br />
Pak Ariel tidak perlu membela nasib pekerja lepas seperti saya, tapi hal itu tetap beliau lakukan.  Walaupun akhirnya pihak institusi yang ‘menang’, setidak-tidaknya saya merasa masih ada orang yang mau menolong dan berada di pihak saya.</p>
<p>Redaksi Kompas menghapuskan rubrik ‘Asal Usul’ tanpa memberikan alasan yang jelas.  Padahal rubrik itu bukan hanya bermanfaat bagi para penulis untuk menyampaikan ide mereka tapi juga memperluas wawasan para pembaca, mengajak mereka merenungkan masalah sosial Indonesia dan mengusik nurani mereka untuk tidak tinggal diam.  </p>
<p>Banyak sekali orang yang bertindak seperti redaksi Kompas, atau institusi tempat saya bekerja - mereka membuat keputusan yang merugikan orang banyak tanpa memberikan alasan.  Kalau pun ditanya kenapa, mereka menolak berkomunikasi.<br />
Setiap kali ada ketidakjelasan atau orang yang tidak mau berkomunikasi – saya marah dan frustasi.  Kalau saya bilang ke Pak Ariel, beliau biasanya menjawab<br />
“Jangan tanya mengapa. Sebab tidak akan ada jawaban yang rasional. Hidup ini lebih Gerrr ketimbang Gerr-nya Putu Wijaya.”</p>
<p>Rubrik ‘Asal Usul’ diakhiri redaksi Kompas April 2008 tanpa penjelasan.<br />
Saya memutuskan untuk mengakhiri karir saya di institusi tersebut November 2007.  Salah satu alasannya saya tidak mau terus-terusan bekerja di tempat yang tidak peduli akan nasib saya.  </p>
<p>Terkadang hubungan atau karir kita berakhir tanpa kita inginkan, membuat kita merasa putus asa dan sedih luar biasa.  Untungnya ada orang-orang seperti Pak Ariel yang selalu mengingatkan adanya harapan untuk mengawali sesuatu yang baru.</p>
<p>Saya meniti karir lain sekarang.  Semoga ada juga wacana lain untuk para penulis rubrik dan pembaca ‘Asal Usul’.</p>
<p>Terima kasih rubrik ‘Asal Usul’ untuk mengawali persahabatan saya dengan Pak Ariel.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mbah MD</title>
		<link>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1117</link>
		<dc:creator>Mbah MD</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 23:30:03 +0000</pubDate>
		<guid>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1117</guid>
		<description>Selamat pagi AH, maaf baru mampir dan meninggalkan pesan. Saya beberapa hari yang lalu terdampar di blog Bapak lewat blog-nya Ndoro Kakung. Tulisan saya tersebut sebenarnya sudah mengendap selama 24 jam (dalam bentuk draft, di blog) - krn ingin diterbitkan pas Harkitnas dan baru diterbitkan tgl 21 - saya tidak punya banyak waktu, jadi kalau menulis harus menyicil. Terima kasih yang tak terhingga sudah mengutip nama saya di komentar Anda (no. 20)

Saya setuju tuh kalau tulisan-tulisan Anda yang terdahulu diterbitkan ulang di blog. Seperti Ca-Ping nya GM, yang diterbitkan ulang dan diterbitkan oleh salah satu penggemar GM. Salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat pagi AH, maaf baru mampir dan meninggalkan pesan. Saya beberapa hari yang lalu terdampar di blog Bapak lewat blog-nya Ndoro Kakung. Tulisan saya tersebut sebenarnya sudah mengendap selama 24 jam (dalam bentuk draft, di blog) - krn ingin diterbitkan pas Harkitnas dan baru diterbitkan tgl 21 - saya tidak punya banyak waktu, jadi kalau menulis harus menyicil. Terima kasih yang tak terhingga sudah mengutip nama saya di komentar Anda (no. 20)</p>
<p>Saya setuju tuh kalau tulisan-tulisan Anda yang terdahulu diterbitkan ulang di blog. Seperti Ca-Ping nya GM, yang diterbitkan ulang dan diterbitkan oleh salah satu penggemar GM. Salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: arielh</title>
		<link>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1114</link>
		<dc:creator>arielh</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 21:29:20 +0000</pubDate>
		<guid>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1114</guid>
		<description>Rekan-rekan: terima kasih untuk semua komentar yang membesarkan semangat. Apalah artinya seorang penulis seperti saya tanpa pembaca yang mendewasakan seperti kalian. Sayangnya saya bukan penulis blog yang rajin. Mungkin karena kurang ada tantangan yang memaksa. Kebebasan tidak selalu memicu orang bertindak. Saya akan mencoba menegakkan disiplin sendiri untuk menulis ajeg, walau tidak dituntut jadwal dengan lembaga formal seperti dulu.

Terima kasih juga untuk koreksi Mbah MD di blognya http://kookkaburra.blogspot.com/2008/05/asal-usul-show-must-go-on.html atas salah ketik pada judul tulisan saya. Sekarang sudah saya koreksi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Rekan-rekan: terima kasih untuk semua komentar yang membesarkan semangat. Apalah artinya seorang penulis seperti saya tanpa pembaca yang mendewasakan seperti kalian. Sayangnya saya bukan penulis blog yang rajin. Mungkin karena kurang ada tantangan yang memaksa. Kebebasan tidak selalu memicu orang bertindak. Saya akan mencoba menegakkan disiplin sendiri untuk menulis ajeg, walau tidak dituntut jadwal dengan lembaga formal seperti dulu.</p>
<p>Terima kasih juga untuk koreksi Mbah MD di blognya <a href="http://kookkaburra.blogspot.com/2008/05/asal-usul-show-must-go-on.html" rel="nofollow">http://kookkaburra.blogspot.com/2008/05/asal-usul-show-must-go-on.html</a> atas salah ketik pada judul tulisan saya. Sekarang sudah saya koreksi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nunur Hidayat</title>
		<link>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1092</link>
		<dc:creator>Nunur Hidayat</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 10:08:56 +0000</pubDate>
		<guid>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1092</guid>
		<description>Wah eman..padahal tulisan2 pak ariel di situ khan satire banget. Saya aja ketawa sambil geleng2 kepala membacanya. Yang paling penting g ada nada menggurui. Dan pastinya sangat mencerahkan.
Dibukukan ajak Pak. Atau ditulis di media online. Maksudnya pragmatis sih, supaya saya terus bisa me-guru dari bapak..

Salam,
NH.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah eman..padahal tulisan2 pak ariel di situ khan satire banget. Saya aja ketawa sambil geleng2 kepala membacanya. Yang paling penting g ada nada menggurui. Dan pastinya sangat mencerahkan.<br />
Dibukukan ajak Pak. Atau ditulis di media online. Maksudnya pragmatis sih, supaya saya terus bisa me-guru dari bapak..</p>
<p>Salam,<br />
NH.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nuraini Juliastuti</title>
		<link>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1084</link>
		<dc:creator>Nuraini Juliastuti</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 May 2008 19:20:19 +0000</pubDate>
		<guid>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1084</guid>
		<description>pak ariel, sayang sekali kolomnya 'hilang'. setuju dengan rekan-rekan lain, kan masih ada blog dan facebook. hehehe</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pak ariel, sayang sekali kolomnya &#8216;hilang&#8217;. setuju dengan rekan-rekan lain, kan masih ada blog dan facebook. hehehe</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Donny Verdian</title>
		<link>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1074</link>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 May 2008 05:32:47 +0000</pubDate>
		<guid>http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita/#comment-1074</guid>
		<description>Aih, iya betul.. sayang kok hilang!
Saya setuju dengan Ndorokakung, menulislah di blog, niscaya tidak akan ada alasan aman atau tidak aman!

Tetap ngeblog!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Aih, iya betul.. sayang kok hilang!<br />
Saya setuju dengan Ndorokakung, menulislah di blog, niscaya tidak akan ada alasan aman atau tidak aman!</p>
<p>Tetap ngeblog!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
