Dari Muslim Pemikir Menjadi Serdadu Tuhan?

dikutip dari Koran Tempo, 3 Juni 2008

Otto Syamsuddin Ishak

  • Peneliti senior Imparsial
  • Pada awal dasawarsa 1980-an, terjadi kebangkitan kaum muslim di Indonesia, khususnya yang berpusat di Jawa. Dinamika itu, jika dihitung sejak kebangkitannya, kini telah masuk dasawarsa ketiga. Masing-masing dasawarsa itu melahirkan model gerakan yang berbasis pada agama dengan karakteristik tersendiri. Namun, secara umum, kita bisa mengatakan spirit keislaman Indonesia bergerak dari pemikiran menuju pelembagaan diri yang kemudian berkompetisi bahwa dirinya atau kelompoknyalah yang merupakan muslim yang terdekat dengan Tuhan. Hal yang terakhir inilah yang kini tampak sebagai fenomena yang ada di hadapan kita.

    Dari data yang dikumpulkan Imparsial, sepanjang 2007 telah terjadi 32 kasus tindak kekerasan yang berbasiskan agama dengan obyek keagamaan. Aneka konflik itu berupa aksi kaum muslim terhadap muslim lainnya (Ahmadiyah dan tarekat) dan terhadap nonmuslim (termasuk aliran Lia Eden). Keragaman kasusnya dimulai dari penghentian kegiatan pendidikan dan ibadah, penutupan dan perusakan tempat ibadah, hingga penyerangan dan perusakan permukiman jemaah.Apakah fenomena itu semua merupakan buah dari model lanjutan dari perkembangan kebangkitan Islam di Indonesia? Lalu apakah perilaku seturut dasawarsa itu mencerminkan perbedaan puncak-puncak religiositas antargenerasi dan kaumnya masing-masing?

    **

    Padahal awal gerakan muslim itu ditandai dengan munculnya aksi reislamisasi pemikiran di kalangan orang kota dan di kampus-kampus perguruan tinggi sekuler. Karena itu, pemikiran-pemikiran tentang Islam menjadi marak. Apalagi para pemikir generasi baru itu kembali dari studinya di luar negeri. Bahkan reislamisasi itu terlihat menonjol di kalangan kelas menengah atas urban, dari melalui ibadah di bulan Ramadan hingga semakin banyaknya kafilah umrah dan haji Indonesia.

    Dalam hal keheroikan politik, kaum muslim Indonesia berpaling ke Iran. Bahkan mereka mulai membaca dan mendebatkan pemikiran Syiah, di antaranya berasal dari buku-buku Imam Khomeini, Murtadha Muthahari, Sayyed Hussein Nasr, hingga Ali Shariati. Meskipun demikian, kaum Suni generasi baru di Indonesia ini tetap saja bertahan dengan kesunian mereka dan tetap tidak menerima Syiah di Indonesia, bahkan mendiamkan sikap Orde Soeharto terhadap Syiah.

    Di sisi lain, mereka membaca pemikiran-pemikiran modernis Barat yang berasal dari Timur, mulai Fazlur Rahman hingga Ziauddin Sardar. Perdebatan pun mulai mengarah pada perwujudan sistem ekonomi, politik, dan budaya Islam. Namun, kemaujudannya sebagai sistem alternatif bagi Indonesia yang majemuk ini tetap tak kunjung tiba.

    Sebagian lagi, ada yang merasakan getaran romantis dari pemikiran generasi terdahulu, seperti karya-karya M. Natsir dan H Agus Salim. Namun, pada saat yang sama, Soeharto sedang meneguhkan kembali Pancasila sebagai asas tunggal, dan pemolarisasian partai politik menjadi tiga aras, yakni nasionalis tua (PDI), muslim (PPP), dan nasionalis baru (Golkar)–yang garis trikotominya seakan mengikuti tiga kaum yang telah diformulasikan oleh Geertz (abangan, santri, dan priyayi).

    Tahun 1990-an merupakan periode pelembagaan para pemikir Islam, yang ditandai dengan lahirnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia pada 1990 di Malang, Jawa Timur. Hal ini dimungkinkan dengan selesainya pembasmian gerakan politik dengan panji-panji komando jihad (komji). Dalam periode ini, rezim Soeharto sempat menggunakan isu komji untuk meredam Gerakan Aceh Merdeka dengan cara menangkap dan mengasingkan Daud Beureueh dari Aceh dengan dalih keterkaitannya dengan komji di Jawa Timur.

    Tampaknya Soeharto juga sudah mulai melihat tingginya nilai politik para pemikir muslim ini untuk menopang akar tunggang politik militernya yang semakin tua, sehingga tidak sepenuhnya bisa dikontrol karena munculnya jarak generasi yang semakin jauh dan terjadi secara alamiah. Memang ada pertumbuhan yang berbanding terbalik antara menguat dan melemahnya Soeharto dengan perkembangan gerakan muslim di Indonesia.

    Namun, rezim Soeharto tetap saja mencurigai gerakan muslim yang masuk ke Indonesia. Untuk hal ini, Soeharto menggunakan Majelis Ulama Indonesia dan institusi lainnya, seperti yang dilakukannya terhadap Syiah dan pelarangan terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia (1980 dan 2005) yang telah berkembang sejak 1930 (praktis setahun setelah Djojosoegito dipecat dari Muhammadiyah pada muktamar ke-18 pada 1929 di Solo). Al-Arqam, yang berbasis di Malaysia, dilarang pada 1994. Namun, anehnya, rezim Soeharto tidak memperhatikan gerakan Hizbut Tahrir yang sudah mulai ada pada 1980-an dan jelas-jelas menyatakan dirinya sebagai sebuah partai politik yang berideologi Islam. Sikap politik demikian bisa dimaklumi jika mengacu pada gerakan Jama’ah Tabligh, yang berpusat di India dan mulai masuk ke Indonesia pada 1960-an, karena gerakan ini tidak politis.

    **

    Kejatuhan Soeharto tampaknya memunculkan kondisi yang matang bagi gerakan muslim untuk mengubah dirinya dari gerakan pemikiran dan dakwah menjadi gerakan politik. Hal inilah yang dilakukan sebagian elite muslim ketika mendirikan Partai Keadilan pada 1998 dan sekaligus aksinya menolak asas tunggal. Jadilah Partai Keadilan sebagai partai politik yang berbasis Islam di era Reformasi.

    Dalam periode ini juga lahir varian gerakan muslim lainnya, seperti Lasykar Jihad dan Front Pembela Islam (1998). Gerakan Lasykar Jihad memiliki andil yang signifikan dalam konflik horizontal di Ambon dan Poso, demikian pula FPI. Namun, gerakan yang kedua ini lebih menonjol aksinya di Jakarta, sekalipun memiliki cabang, misalnya di Solo, yang Abubakar Ba’asyir menjadi salah satu tokohnya.

    Setelah berakhirnya konflik horizontal di Ambon dan Poso, gerakan muslim yang tumbuh dalam periode menjelang 2000-an, baik yang politik (PKS) maupun yang nonpolitik (FPI) atau bisa juga disebut sebagai gerakan gabungan antara ulama dan habib, mulai membangun musuhnya ke dalam lingkungan masyarakat Islam sendiri. Arus balik dari agresif ke luar menjadi agresif ke dalam. Mulai 2000-an, Ahmadiyah kembali menjadi kelompok target aksi kekerasan dan tuntutan politik sepihak. Bahkan Ahmadiyah, yang telah dilarang pada 1980 dan 2005, kini kembali menjadi sasaran kekerasan dan tuntutan pelarangan.

    **

    Akhir-akhir ini kompetisi di antara kaum muslim menjadi fenomena politik yang menonjol di Indonesia, khususnya di Jawa. Mereka berebut mengklaim dirinya sebagai penganut Islam sejati, dengan cara mengklaim kaum muslim lainnya sebagai muslim yang telah sesat, lagi murtad. Kaum yang terakhir ini dipaksa, baik dengan kekerasan maupun kekuatan politik, berada di luar Islam yang telah didefinisikan secara sepihak.

    Dinamika muslim di Indonesia terus bermetamorfosis dari pemikiran ke aksi kekerasan politik (pelarangan) serta kekerasan fisik (penghancuran harta benda agama dan individu). Mereka bak meteor yang jatuh ke bumi dan membakar sekitarnya. Sebuah realitas yang jauh dari pemahaman akan kehadiran Islam yang rahmatan lil alamin.

    Puncak religiositas mereka yang bangkit dalam dasawarsa ketiga ini ternyata bukan ditandai dengan kehadiran karamah, melainkan oleh besarnya kekuasaan atau akses politik dan kemampuan memobilisasi massa untuk beraksi dengan kekerasan. Jadi bukannya kemustahilan bahwa kita bisa lupa akan firman Tuhan: “Tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu, melainkan Dia sendiri” (Al-Muddatstsir:31).*

    One Comment

    1. Posted June 3, 2008 at 2:34 pm | Permalink

      “Namun, anehnya, rezim Soeharto tidak memperhatikan gerakan Hizbut Tahrir yang sudah mulai ada pada 1980-an dan jelas-jelas menyatakan dirinya sebagai sebuah partai politik yang berideologi Islam. ”

      Saya juga baca artikelnya di KT pagi ini. Kelihatannya, bukan Orde Baru yang bodoh, tapi HT yang lebih pintar. Nama HT sendiri baru muncul ke permukaan pada tahun 2000.

    Post a Comment

    Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

    *
    *