Festival Film Malaysia di Melbourne

Tadi malam aku ikuti acara pembukaan Australian Malaysian Film Festival di Melbourne. Film pembuka yang disajikan berjudul Sepi (mulai diluncurkan Juni 2008) berisi serangkai tiga cerita yang saling berkait. Sangat mengesankan. Bagi yang mau mengintip teasernya, ini ada di youtube

Sebagai orang Indonesia, aku merasa pengaruh budaya pop Indonesia di filem ini cukup menonjol. Yang paling terasa pada pengunaan lagu-lagu pop Indonesia dengan lirik berbahasa Indonesia yang ber”beza” ketimbang bahasa Malaysia. Tetapi juga menonjolnya demam bersajak di kalangan anak muda yang ditampilkan di filem mengingatkan aku pada filem Ada Apa Dengan Cinta. Diluar filem praktek ini boleh jadi lebih kuat di Kuala Lumpur ketimbang di Jakarta; aku nggak tahu dan bukan itu pokok masalahnya.

Kerangka bercerita yang bercabang dan bermuara pada satu kerangka besar dalam Pulp Fiction memberikan banyak ilham sineas kita di Asia. Belakangan menjadi populer di Indonesia (ingat Berbagi Suami yang konon sangat populer di Malaysia). Rupanya format itu juga digemari di Malaysia. Untuk orang yang awam soal filem Malaysia seperti aku, yang juga cukup mengherankan adalah populeritas filem horor buatan dalam negeri di negeri jiran ini. Jadi bukan cuma di Indonesia yang aku duga masih kalah “Islami” ketimbang Malaysia, karena kuatnya pengaruh Kejawen dan Hindu di tanah air.

Apa yang tertulis di atas tidak menyarankan bahwa filem Malaysia masih kalah hebat ketimbang filem Indonesia. Dari segi jumlah produksi, Indonesia tampaknya jauh di atas Malaysia dan Australia. Tetapi tidak dari segi kualitas.

Dan yang lebih mengesankan buat aku adalah usaha bersungguh-sungguh dari pemerintah Malaysia dan komunitas seniman filem negeri itu untuk memasarkan karya-karya sinematik mereka ke Australia. Festival Filem Malaysia di Australia tahun ini merupakan kelanjutan tahun sebelumnya.

Di Australia dan khususnya di Melbourne, ada sejumlah penggiat acara-acara yang memasarkan filem dari Indonesia. Tapi — tanpa bermaksud merendahkan nilai serta minat mereka –kegiatan yang didominasi mahasiswa Indonesia ini lebih banyak diadakan sebagai acara hiburan di antara sesama mereka sendiri. Walau ada publikasi untuk umum, dan masyarakat Australia bisa ikut bergabung, tetapi fokus acara dan format acara masih terpusat pada mereka sendiri. Acara mereka mirip pesta ulang tahun anak-anak muda Indonesia dengan teman-teman gaulnya. Sangat meriah dan menyenangkan, tapi penuh main-main dan seloroh “lokal”. Dan penuh pidato dengan gaya berbahasa ala acara talk show di televisi.

Semua itu berbeda sekali dengan acara filem festival yang pernah aku ikuti dan diadakan oleh komunitas etnis lain di Melbourne (masyarakat Melbourne berasal dari 248 negara, mereka bicara dalam 289 bahasa, dan menganut 128 kepercayaan/ agama). Acara mereka sangat profesional, dan melibatkan kaum professional yang bekerja di bidang yang berkait dengan filem (produksi, distribusi, pendidikan, dan sebagainya). Pengelolaan acara Festival diserahkan pada sebuah lembaga profesional di Melbourne dan salah seorang pemimpinnya punya nama Ade Djajamihardja. Apakah dia dari tanah Parahiangan? Saya tidak tahu.

Secara keseluruhan, acara pembukaan Festival Filem Malaysia di Melbourne tadi malam, jauh lebih bagus ketimbang yang dikesankan oleh website mereka. Selain menonton filem perdana, ada acara ramah-tamah dengan hidangan makan-minum kecil untuk para undangan. Masih ada lagi promosi berbagai majalah perfileman dari Malaysia, dan DVD beberapa judul filem (termasuk satu yang diputar dalam Festival ini!). Semua ini dibagikan gratis oleh salah satu dari daftar panjang sponsor Festival ini: Perbadanan Kemajuan Filem Nasional Malaysia (atau FINAS).

3 Comments

  1. Posted August 16, 2008 at 2:51 pm | Permalink

    Dunia perfilman negara tetangga kita ini memang cukup agresif. Sineas mereka, Yasmin Ahmad, Yuhang Ho, James Lee, selama beberapa tahun terakhir menjadi bahan perbicaraan di berbagai festival dunia. Yasmin Ahmad sekarang sedang mengerjakan sebuah film yang katanya akan didukung oleh NHK, Jepang, setelah filmnya Muchsin menang di festival film di Australia, APSA. James Lee tahun lalu juga menang di Bangkok International Film Festival, Yuhang sudah berkeliling dan menang di mana-mana, proyek barunya At the End of Daybreak baru diumumkan akan didukung oleh Pusan International Film Festival dalam proses pascaproduksi. Film-film sutradara Malaysia ini sekarang didanai oleh banyak rumah produksi luar negeri. Yuhang dan James Lee oleh Focus H.K, dan Yasmin dilirik banyak rumah produksi dari dalam dan luar negeri. Uniknya kelompok sineas ini sangat akrab antar mereka. James Lee dan Yuhang membantu Yasmin, dan sebaliknya. Hal yang masih jarang kita lihat di industri perfilman di tanah air, yang mulai berkesan merujuk ke Hollywood, dan dikuasai sekelompok produser sangat komersial. Sineas-sineas Malaysia yang saya sebut di atas menggarap film-film mereka dengan inovasi estetika yang bersaing dengan film-film sejenis di luar negeri. Walaupun film-film mereka pada akhirnya di dalam negeri kurang diminati, tetapi mereka mampu menunjukkan pada akhirnya sebuah karya yang punya nilai lebih dari hanya hiburan selalu akan diakui dunia lain. Dari segi pendukungan dari pihak pemerintah, saya kira Malaysia sebenarnya tidak jauh beda dengan negara kita: yakni, hampir tidak ada. Sebagain sineas Malaysia tetap harus berjuang dengan bekerja di bidang periklanan, seperti Yasmin, Yuhang dan mencoba mendapat pendanaan dari Rotterdam, Pusan atau pun negara-negara maju. Yang berbeda dengan negara kita, Malaysia menerapkan aturan screening time selama 14 hari untuk film-film dalam negeri di bioskop. Satu kelebihan yang membantu produser film untuk bisa mengembalikan sedikit dana dari karya-karya mereka. Sistem yang ada sekarang dengan Studio21 sangat tidak membantu. Film-film yang gagal dalam kurun waktu sehari atau dua hari untuk memperoleh sejumlah penonton, akan segera ditarik. Kemudian para stasiun televisi dalam negeri juga hanya tertarik film-film cinta atau pun horor yang sama sekali tidak punya nilai estetika lebih dan tidak mendukung apresiasi film penonton kita. Keadaan seperti ini sama sekali tidak menunjang perkembangan film dalam negeri. Setiap produksi film yang agak keluar dari jalur komersial akan sangat riskan: satu-satu harapan pembuat film seperti ini adalah penjualan rights ke luar negeri.
    Saya dengar dari teman-teman yang berhubungan dengan pihak Dirjen Komisi Perfilman bahwa dalam waktu dekat akan diadakan pundi perfilman yang akan menunjang pembuatan sepuluh film setiap tahun. Orang-orang film dalam negeri selalu menanggapi kiprah seperti ini dalam tahun pemilu dengan sinis. Masih ingat pada era Megawati, deputi menteri kebudayaan kita sepakat dengan pihak Singapura untuk membantu pembuatan film digital? Mana hasilnya? Terus dana yang dikucurkan untuk pembuatan film selalu diberikan ke beberapa kelompok yang jelas dengan hasilnya juga sangat meragukan. Hampir tidak ada film yang pendanaan dari pemerintah itu berhasil membuat terobosan di festival film dunia. Setiap film yang digarap dengan serius dengan narasi di luar mainstream horor dan komedi slapstick digandrungi penonton-penonton dalam negeri selalu menderita kerugian. Yang boleh dibanggakan adalah film-film digarap secara indie ini sekarang mulai berkeliling di festival-festival film mancanegara: Fiksi oleh Mauly Siregar akan ditayang di Pusan International Film Festival, Photograph, di Locarno, dan Mereka Bilang Saya Monyet sudah bersaing di Singapore International Film Festival dan Ocean Cinefan di New Delhi. Tentu saja kita sudah juga tahu sepak terjang Nia Dinata, Garin Nugraha (yang sekarang diaku sebagai salah sineas terbaik dunia).

  2. Posted August 16, 2008 at 5:58 pm | Permalink

    maaf pak. saya bkn brtujuan mengomentari tulisan anda, tetapi saya mau blng klo website anda sdh saya link-kan k web site saya. he…he…he…

    oh iya klo bsa bapak tolong bka website saya ya…tapi isinya msh sedikit. maklum bru buat. hehehe..

    bntng (14)

  3. Gaston Soehadi
    Posted August 20, 2009 at 12:06 am | Permalink

    Saya jarang menonton film produksi Malaysia. Ada satu film yang saya sempat tonton ketika berada di dalam pesawat tujuan Jedah. Namun dari pemberitaan dan cerita yang saya ikuti, saya kira Malaysia sedang berupaya keras untuk memajukan dunia filmnya, walaupun dalam langkah2 kecil dibandingkan dengan Indonesia. Saya sangat menyesalkan bahwa di Indonesia terjadi penyamaan selera yang masif oleh produser komersil. Sehingga jika ada film alternatif, maka bisa dipastikan bahwa film itu bakal dijauhi penonton. Jika penonton kita suka horor maupun komedi, kita nampaknya masih harus menunggu film dengan genre itu yang digarap dengan cita rasa estetika tinggi. Jadi selain menghibur juga mendidik penonton untuk menghargai film yang ‘berpikir’. Ditengah-tengah bangkitnya industri film Indonesia, akan sangat disayangkan jika tidak dimanfaatkan untuk mendidik penonton. Saya sangat percaya sekarang bahwa tugas orang-orang film adalah ganda: menghibur dan mendidik.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*